Kunjungan FOKUS dan Rohis SMAN 103
Sabtu pagi pada tanggal 14 April 2012, KALAM SMAN 28 mendapatkan kunjungan silaturahim dari Forum Alumni Rohis SMAN 103 (FOKUS). Kabarnya akan ada 10-15 orang yang akan hadir dari teman-teman FOKUS dan setelah diusahkan dari teman-teman KALAM pun kira-kira sejumlah itu juga. Sekitar pukul 9 pagi, beberapa pengurus KALAM telah siap berada di sekretariat KALAM, tempat yang menjadi tujuan jaulah kali ini. Ada Nesti, Edi, Topan, dan Fikar di ikhwannya dan ada Arin, Maya, dan Asri di akhwatnya. Teman-teman rohis SMAN 28 pun turut kami undang, ada Ketua Rohis dan Ketua Keputrian, serta akhwat dari Dept Syiar.
Sebelum tamu datang, beres-beres sekretariat dulu, maklum tidak ada yang menunggui 24 jam jadi debu-debu yang melekat perlu dihilangkan agar tidak mengganggu hari kunjungan.
Rupanya teman-teman dari FOKUS 103 masih dalam perjalanan, setelah ditilik lebih lanjut ternyata sekolah ini cukup jauh dari SMAN 28 yang ada di bilangan Pasar Minggu. Letaknya di Klender dan hampir semuanya menempuh kereta menuju sekretariat KALAM 28 yang letaknya tidak jauh dari SMAN 28. Tapi Subhanallah, jauhnya jarak tersebut tidak mematahkan semangat mereka untuk menjalin silaturahim dengan kami. Semangat yang perlu dicontoh!
Sekitar pukul 10 kurang, teman-teman FOKUS 103 tiba di sekretariat kami. Luar biasa, ternyata jumlahnya banyak sekali dan melebihi prediksi kami. Ada 10 akhwat dan 14 ikhwan yang hadir dan mayoritas adalah pengurus rohis yang masih menjabat. Akhirnya sekret kami yang mungil pun penuh seketika. Barisan semakin rapat dan diatur sedemikian rupa agar semua peserta dapat menempati ruangan yang ada. Suasana jelang siang hari itu pun panas sekali dan hanya ada 1 kipas angin di ruangan sekret kami, akhirnya 2 ikhwan pengurus KALAM inisiatif mencari kipas angin (beli atau pinjam yaa?
).
Singkat cerita, acara pun dimulai. Sambil menikmati hidangan alakadarnya dari kami, acara dibuka oleh Edi dan dilanjutkan dengan tilawah oleh Topan. Setelah itu, sambutan dari Ketua FOKUS 103, Akh Faris. Setelah Faris selesai memberikan sambutan dan penjelasan singkat tentang FOKUS 103, Ketua KALAM 28 (Fikar) pun gantian memberi sambutan. Profil KALAM 28 dijelaskan melalui sebuah video singkat dilengkapi dengan penjelasan langsung dari Fikar.
Ada sedikit keunikan di kunjungan hari itu, karena proporsi antara SMAN 28 dan SMAN 103 cukup berbeda. Dari SMAN 28, tim pengurus KALAM lebih banyak dari pengurus Rohisnya, sedangkan dari SMAN 103 pengurus Rohisnya lebih banyak dari alumninya. Ternyata alumni Rohis SMAN 103 banyak yang berhalangan hadir dan sebaliknya pengurus rohisnya semangat turut serta bersama-sama. KALAM 28 sebaliknya, hanya mengundang perwakilan pengurus Rohis karena di awal diskusi dirancang antar forum alumni sehingga keterlibatan alumni yang diutamakan. Di tengah acara pun, hadir juga pengurus KALAM yang lain, Hanan, Putri, dan Ifah.
Walaupun begitu, acara tetap berjalan, bahkan pengurus Rohis dari kedua belah pihak saling memberikan informasi. Sesi tanya jawab pun banyak tentang seputar kepengurusan rohis, program-programnya, cara mengatasi masalahnya, dan masih banyak sekali. Cukup seru dan membuat para alumni merasa kembali ke masa putih-abu abu mendengar pertanyaan dari adik-adik yang menjadi pengurus Rohis.
Setelah berbagi cerita, berbagi hikmah, berbagi tips, dan tanya jawabnya lainnya, agenda kunjungan siang itu pun diakhiri jelang dzuhur. Kedua belah pihak saling memberikan kenang-kenangan dan tentunya tak lupa foto bersama. Semoga silaturahim yang terjalin dapat menguatkan langkah-langkah kedepannya untuk dakwah sekolah yang semakin baik.
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.“ (HR. Bukhari)
“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.“ (HR. Bukhari)
-Humas KALAM 28-
Pemimpin yang Melayani
Bismillahirrahmaanirrahiim
Kisah ini diceritakan oleh Mush’ab bin Ahmad bin Mush’ab :
Suatu ketika, Abu Muhammad al-Marwazi singgah di Baghdad dalam perjalanannya menuju Makkah. Aku sangat berharap agar dapat menemani perjalanannya. Oleh karenanya aku datang menemui Abu Muhammad agar merestui keinginanku, namun Abu Muhammad menolak. Begitulah, ia tetap menolak keinginanku pada tahun berikutnya.
Pada tahun berikutnya lagi (kali ketiga), Abu Muhammad datang kembali, dan seperti biasa aku menemuinya agar diizinkan dapat menemani perjalanannya menuju Makkah (menunaikan ibadah haji). Kali ini, Abu Muhammad setuju. Ia berkata : “Aku terima permohonanmu dengan satu syarat : salah satu dari kita harus menjadi pemimpin perjalanan dan harus ditaati.” Spontan aku menyambut, “Engkau kuangkat sebagai pemimpin perjalanan.” Ia menolak, “Tidak, kamu saja!” Aku mencoba memberi alasan, “Engkau lebih tua dan lebih layak dariku.” Abu Muhammad akhirnya setuju. Ia berkata, “Baiklah, tapi jangan bantah keputusanku.” Aku menyahut, “Ya, baiklah”
Mush’ab tidak sadar bahwa Abu Muhammad al-Marwazi mau menjadi pemimpin perjalanan dengan tujuan agar dapat melayaninya dan bukan sebaliknya. Selain itu, agar menjadi pelajaran bagi setiap pemimpin agar memposisikan dirinya sebagai pelayan, penuh cinta, dan kasih sayang kepada orang2 yg dipimpin.
Mush’ab melanjutkan cerita,
Lalu kami berangkat, dan sepanjang perjalanan Abu Muhammad selalu mendahulukan aku untuk makan. Jika aku protes, ia menjawab, “Bukankah kita telah menyepakati sebuah isyarat, bahwa engkau tidak boleh membantah keputusan yang telah aku buat?!” Demikianlah selama perjalanan. Aku menyesal telah menemaninya, karena membuatnya menderita.
Pada suatu hari, ketika kami tengah melanjutkan perjalanan, tiba-tiba hujan yang sangat deras turu mengejutkan kami. Abu Muhammad berkata, “Hai Abu Ahmad (nama panggilan untuk Mush’ab), cepat cari mil yang paling dekat dari sini.” Setelah berhasil menemukannya, Abu Muhammad kembali mengeluarkan perintah agar aku duduk pada pondasi mil, sementara ia menjulurkan dua tangannya dengan posisi miring dan menggeraikan jubah untuk melindungiku dari curahan deras air hujan. Melihat keadaannya, aku betul-betul menyesal. Andaikan aku tidak ikut, mungkin ia tidak akan menderita seperti itu. Begitulah perlakuan Abu Muhammad terhadapku hingga sampai di kota Makkah. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.
Referensi : Shifatush-Shafwah IV/148-149
Ditulis oleh Bayu Rahadian
Ketua Departemen PPSDA KALAM 28 – 2012
Antara Atom dan Fana
Bissmillahirrahmanirrahim.
Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, tulisan ini berdasarkan ilmu yang saya dapatkan dari diskusi kecil dan dikombinasikan dengan pemikiran saya yang berdasarkan ilmu yang ada agar kita semua dapat saling berdiskusi didalamnya. Tulisan ini berkenaan tentang apakah benar atom penyusun terkecil alam ini? Hayo dijawab.
Berdasarkan teori fisika atau kimia, atom adalah unit struktural terkecil penyusun material yang ada di semesta alam ini. Atom sendiri tersusun dari inti atom dan elektron (bermuatan negatif) yang mengelilingi inti atom, sedangkan inti atom sendiri tersusun dari neutron (bermuatan netral) dan proton (bermuatan positif). Teori atom ini memiliki anomali karena atom sebagai unit struktural terkecil ternyata memiliki unit-unit penyusunnya. Secara logika, bukan atomlah yang merupakan unit struktural terkecil tetapi proton, neutron, dan elektronlah. Selain itu, teori ini sudah ditemukan sudah lama sekali sedangkan teknologi sudah semakin berkembang.
Mungkin dulu, teknologinya hanya menyokong ilmuwan untuk melihat bagian seukuran atom sehingga atom disebut sebagai unit struktural terkecil. Akan tetapi, penemuan akhir-akhir ini mengatakan bahwa ada suatu unit yang lebih kecil dibandingkan atom, unit inilah yang dinamakan Quartz. Penemuan ini didukung dengan kemajuan teknologi mikroskop yang dapat melihat ukuran yang lebih kecil dari ukuran atom serta juga didukung dengan kemajuan nanoteknologi.
Jika kita runut teknologi penglihatan manusia dari dahulu hingga masa yang akan datang, yaitu dahulu orang hanya mampu melihat bagian yang paling kecil berukuran butiran pasir. Kemudian dengan ditemukannya mikroskop, manusia dapat melihat penyusun makhluk hidup yang berukuran sel. Kemudian ternyata di dalam sel terdapat banyak organel-organel sel dan ternyata organel-organel sel tersusun dari atom-atom. Penemuan selanjutnya adalah adanya unit yang lebih kecil dari atom, yakni quartz. Jika teknologi semakin maju, maka kemungkinan akan ditemukan ukuran yang lebih kecil dan terus menerus akan semakin kecil.
Kalian pernah menonton video yang berisi seseorang yang sedang ada ditaman dilihat dari atas kemudian penglihatan kita semakin jauh hingga kita melihat galaksi hingga berukuran kecil. Terlintas pikiran, apakah terlihat bumi kita? Atau terlihat orang yang ada ditaman? Tentu saat itu, kita tidak melihatnya karena bumi jauh lebih kecil dibandingkan galaksi, apalagi manusia. Kemudian ketika penglihatan kita di¬-zoom maka kita dapat melihat orang itu, kemudian di-zoom lagi sehingga kita melihat atom jika terus dan terus-menerus dilakukan perbesaran sampai nilai yang tak terhingga maka hanya kehampaan yang akan kita lihat. Jika kita analogikan hal ini kedalam persamaan matematik akan diperoleh :
1/~=0
Satu dibagi nilai yang tak terhingga sama dengan nol
Hal ini dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya kehidupan didunia ini adalah kehidupan yang fana (tidak kekal), hanya semu belaka. Kehidupan yang abadi kelak nanti adalah kehidupan kita di akhirat. Sebagai penutup, saya berharap sekiranya tulisan ini akan menjadi motivasi kita semua untuk selalu berpegang teguh pada prinsip ;
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil’alamin
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam”.
Ditulis oleh Dede Anggayana
Ketua Departemen Pendidikan KALAM28 – 2012
Syiar: Pemantik Semangat untuk Mendalami Islam
Dakwah sekolah memiliki tujuan utama yaitu terwujudnya barisan remaja-pelajar yang mendukung dan mempelopori tegaknya nilai-nilai kebenaran, mampu menghadapi tantangan masa depan dan menjadi batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat Islam. Kondisi yang bisa mengakselerasi ketercapaian tujuan tersebut adalah dengan adanya lingkungan yang kondusif bagi kehidupan Islami di sekolah. Salah satu cara menciptakan kondisi demikian adalah dengan syiar-syiar yang masif sebagai perwajahan Islam yang dapat menjadi pemantik semangat remaja untuk mendalami Islam.
Roda zaman boleh berputar, namun Al Quran dan sunnah tetaplah menjadi rujukan utama yang tidak boleh tergantikan. Syiar Islam dapat mewujud dalam berbagai bentuk sarana dan kreatifitas selama masih berjalan dalam koridor syar’i. Kajian Al Quran dan shiroh nabawi serta kisah tentang ulama dan orang-orang shaleh, peringatan hari besar Islam, semarak acara seni budaya, dan publikasi media-media dakwah adalah sebagian contoh kreasi syiar Islam yang dapat terus dapat dikembangkan.
Apa penyebab umat Islam mengalami kemunduran padahal mereka memiliki Al Quran sebagai panduan. Menurut Sayyid Quthub ada tiga sikap yang menyebabkan generasi sahabat berhasil bertransformasi menjadi pemimpin peradaban, yaitu: menuntut ilmu bukan sekedar untuk menjadi koleksi ilmu, putus dengan segala kejahiliyahan di masa lalu kemudian komitmen hidup dalam aturan Islam, dan taat kepada Al Quran seperti prajurit siaga menunggu aba-aba komandan. Penyebab kemunduran umat Islam hari ini bisa jadi disebabkan sudah jauhnya umat dengan Al Quran. Sudah selayaknya syiar-syiar Islam dimulai dari titik ini, bagaimana membuat umat Islam dekat kembali dengan Al Quran. Maka, halaqoh-halaqoh yang dibacakan ayat Al Quran di dalamnya, majlis ta’lim yang mengkaji Al Quran di dalamnya, madrasah tahsin dimana orang-orang belajar membaca Al Quran di dalamnya, sangat patut untuk diadakan untuk menuansakan syiar Islam yang dapat mendekatkan diri pada Al-Qur’an.
Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, demikian sabda Rasulullah dalam suatu hadits. Maka, sudah selayaknya syiar Islam mampu menjadi opinion leader. Tema yang layak diangkat sangat banyak, mulai dari bahasan akhlak, akidah, ibadah, muamalah, sampai isu kontemporer seperti kabar umat Islam di seluruh penjuru dunia. Wawasan tentang berbagai hal bernafaskan Islam ini bisa disebarkan melalui berbagai media. Mading mesjid, buletin, poster, majalah adalah sarana-saran yang bisa dimaksimalkan untuk membuat syiar Islam menghegemoni.
Syiar Islam pada gilirannya harus mampu memiliki jangkauan yang luas dan pandai memilih momentum agar pesan-pesan kebaikan yang ingin disampaikan sampai ke berbagai kalangan. Memperluas jangkauan syiar-syiar Islam, misalnya dengan mengadakan acara-acara seni budaya yang Islami seperti nasyid, marawis, kaligrafi, dan sebagainya sehingga syiar Islam bisa menjangkau orang-orang yang memiliki minat dengan berkesenian. Sedangkan bagaimana memilih momentum bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Salahuddin Al Ayyubi yang mengambil momentum maulid Nabi untuk meningkatkan kembali semangat jihad kaum Muslimin yang ketika itu menurun. Maka pada hari ini, dengan berbagai kemerosotan yang dialami kaum Muslimin, maka hari-hari besar Islam sepatutnya bisa dijadikan momentum juga untuk menyebarkan syiar-syiar Islam.
Sebagai pamungkas, hal yang tidak boleh dilupakan adalah baik atau tidaknya syiar Islam adalah bagaimana keteladanan yang diberikan oleh para aktifisnya. Seberapa bagus dan kreatif tampilan syiar Islam, keseharian para aktifisnya yang pada akhirnya sering jadi bahan penilaian bagi orang-orang. Maka sudah menjadi kewajiban para penggerak syiar Islam untuk menjaga amal ibadah harian dan integritas dirinya.
Ditulis oleh Edi Susilo
Kadept Syiar KALAM 28, 2012
Referensi
Panduan Dakwah Sekolah: Nugroho Widiyantoro
Pilar-Pilar Asasi, Bersama Al Haq dan Ahlul Haq: Rahmat Abdullah
Untukmu Kader Dakwah: Rahmat Abdullah
Bukankah Abu Jahal juga Seorang Pemimpin?
Abu Jahal, begitulah ummat Islam lebih sering mengenalnya. Nama aslinya sebenarnya cukup indah, ‘Amr Ibnu Hisyam, dan julukan yang diberikan oleh pendduduk Mekah pada saat itu pun cukup bagus, Abu Hakam. Abu Jahal dan Abu Hakam tentunya dua makna yang saling bertolak belakang. Ironi, satu sosok manusia yang sama memiliki dua julukan yang bertolak belakang, tapi pasti keduanya memiliki sebab atas kemunculannya. Jika kita menelisik alasan ummat Islam menjulukinya sebagai Abu Jahal, jelas karena ke-Jahiliyah-annya. Sikap penolakannya yang begitu besar pada kebenaran yang dibawa oleh Islam lah yang menyebabkannya mendapat julukan itu. Namun, tentu julukan Abu Hakam pun memiliki alasan tersendiri. Dan alasan yang paling memungkinkan kenapa Abu Jahal juga dijuluki sebagai Abu Hakam adalah karena kepandaiannya dalam urusan hukum, atau bisa jadi karena kepiawaiannya dalam ilmu pemerintahan di Mekah saat itu.
Yaa, jadi selain begitu bersemangatnya ummat Islam menjulukinya sebagai Abu Jahal maka kita harus jujur mengakui bahwa Abu Jahal punya kemampuan memimpin yang baik hingga orang-orang Mekah pada saat itu pun menjulukinya sebagai Abu Hakam. Sebagai seorang pemimpin saat itu pun Abu Jahal memiliki kemampuan memberi pengaruh yang cukup baik, pandai membuat propaganda. Teringat sebuah kisah ketika Abu Thalib, paman dari rasulullah saw, akan menemui ajalnya. Saat itu rasulullah saw begitu ingin agar pamannya dapat mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, di sisi lain Abu Jahal bersama karibnya, Abu Lahab, terus memberikan propaganda, “Apakah Engkau akan mengkhianati nenek moyang kita?”. Propaganda itu terus diluncurkan hingga Abu Thalib pun meninggal tidak dalam kondisi muslim.
Memiliki kecakapan dalam pemerintahan dan hukum, serta punya daya pengaruh, bukankah itu cukup untuk menjadi syarat sebagai seorang pemimpin? Yaa, sepertinya jika merujuk pada syarat-syarat tadi, sekali lagi saya harus berlapang dada untuk mengatakan bahwa Abu Jahal juga seorang pemimpin. Namun, Islam tidak hanya ingin menciptakan seorang pemimpin. Apa yang telah rasulullah saw lakukan selama 23 tahun berdakwah di Mekah dan Madinah tidak hanya untuk menciptakan pemimpin ala kadarnya.
Sejak awal, karakterisitik jalan dakwah telah menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak selalu hadir dalam kenikmatan, jalan dakwah justru didahului dengan onak dan duri. Bukankah kita sama-sama mendengar, dahulu sebelum Rasulullah saw diturunkan ke tanah Arab, mereka yang berjuang di jalan tauhid terus mendapatkan siksaan. Mereka tak henti meskipun harus disisir menggunakan sisir besi, atau ditarik dua sisi tubuhnya hingga terbelah. Begitupun pada masa rasulullah saw, kita menyaksikan kisah seorang Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di tengah terik padang pasir untuk mempertahankan keyakinannya. Dari sini kita bisa menyaksikan bagaiman rasulullah saw telah membentuk para sahabat menjadi pemimpin-pemimpin yang kuat, yang mereka tak mudah takluk oleh kondisi-kondisi yang sulit.
Sebelum Rasulullah saw memberikan paham kenegaraan kepada ummat Islam saat itu, 13 tahun periode Mekah dihabiskan untuk menguatkan pribadi-pribadi ummat Islam, maka wajar jika dahulu shalat malam pernah menjadi hal yang wajib mereka laksanakan, karena kedekatan dengan Rabb-nya benar-benar ingin dibangun pada saat itu. Pada saat itu Rasulullah saw benar-benar memberikan bekal yang tepat untuk para sahabat. Karena bekal itulah yang tidak akan pernah membuat mereka mati dari keislamannya. Dan benar saja, strategi ini cukup ampuh dalam membentuk seorang pemimpin yang tidak ala kadarnya. Perang Khandaq telah mengajarkan kepada kita tentang kesabaran dan ketabahan ummat Islam saat itu. Persediaan makanana yang menipis tidak mematikan keislaman mereka, mereka tetap bertahan dengan kondisi seperti itu. Ancaman dari pasukan kafir quraisy yang bersekutu dengan kabilah-kabilah lain justru semakin menguatkan keimanan mereka. Dan pada saat itulah akhirnya pertolongan Allah turun. Dengan izinnya, badai padang pasir pun telah berhasil membubarkan pasukan kafir quraisy bersama sekutu-sekutunya.
Begitulah Islam, ia tak hanya mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin ala kadarnya. Tapi Islam ingin menuntun kita untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yang tidak hanya memimpin dengan jasad dan fikriyahnya saja, tapi juga dengan ruh hingga kuatlah pondasi kepemimpinan yang dimiliki olehnya. Dan begitu juga seharusnya ketika kita ingin membentuk kader-kader yang tangguh, tak cukup hanya dengan bermodalkan leadership training, ruh kita pun lebih butuh untuk dilatih agar tetap kuat.
Maka, membentuk seorang pemimpin muslim tidak hanya sekedar bicara bagaimana melatih keterampilannya dalam memimpin dan mempengaruhi tapi bagaimana membangun pondasi yang kuat pada mereka, membangun kedekatan dengan Rabb-nya. Jika tujuannya hanya membentuk manusia yang dapat memimpin dan mempengaruhi, tak perlulah Muhammad saw dijadikan teladan, cukup Abu Jahal yang dijadikan teladan jika hanya untuk itu.
Wallahu a’alam.
Ditulis oleh
Topan Bayu Kusuma,
Ketua Departemen Pembinaan dan Kaderisasi Kalam 28 – 2012
Referensi dan Inspirasi:
- Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim: Salim A. Fillah
- Muhammad saw: Super Leader, Super Manager: Antonio Syafi’i
- Jalan Dakwah: Musthafa Masyhur
- Bekal Dakwah: Musthafa Masyhur
- Shiroh Nabawiyah



