Memoar Pemimpin Dan Bos Besar (Part 2)

Memoar Pemimpin Dan Bos Besar (Part 2)

Penulis: Floweria (angkatan 2007)

 

memoar

 

BAB II

Hidayah dari Sebilah Pisau

 

Anak itu mendapat pertolongan medis dengan cepat. Sekarang ia sudah berbaring di atas tempat tidur setelah dokter berhasil menjahit perutnya, 7 jahitan yang cukup panjang!

“Pendarahan yang lumayan dalam.” ucap Dokter Hasan, nama yang bisa kubaca di bet jas putihnya itu.

“Tapi, untunglah kalian langsung membawanya kemari, sehingga bisa ditangani dengan cepat.”. Dokter Hasan tersenyum menenangkanku dan Pemimpin. Aku dan Pemimpin menghembuskan nafas penuh rasa kelegaan setelah menunggu anak itu diobati selama kurang lebih 1 jam. Penantian yang begitu menyiksa! Pertaruhan nyawa seseorang!

“Akan tetapi, sekarang ia kekurangan banyak darah! Kami dari pihak rumah sakit akan mengusahakan untuk menyediakan kantong darah yang cukup. Atau mungkin, kalian kenal dengan orang yang golongan darahnya 0? Ini untuk mengantisipasi kalau persediaan kantong darah kurang.“ tawar Dokter Hasan.

Sialan, golongan darahku juga 0, tapi aku belum cukup umur, aku belum 17 tahun! runtukku kesal dalam hati.

“Akan kami usahakan, Dok!” jawabku seadanya.

“Kalian berdua temannya?” tanya Dokter Hasan ramah.

Aku dan Pemimpin saling berpandangan, bingung mau menjawab apa.

“Kenapa ia bisa sampai tertusuk?” tanya Dokter Hasan lagi tanpa memberiku waktu untuk menjawab  pertanyaannya tadi. Aku dan Pemimpin tak bisa berkata-kata. Apakah kami harus menjelaskan semua yang terjadi? Bahwa kamilah yang menusuk anak itu sampai sekarat?! Sungguh tindakan yang memalukan!

“Biasanya kalau seorang pelajar kena tusuk, itu mungkin karena ia terlibat tawuran. Entah tidak sengaja tertusuk atau ketusuk benaran…”. Dokter Hasan memandang menyelidik ke arah kami berdua. Kami langsung salah tingkah.

“Bisa kami melihatnya sekarang, Dokter?”. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan yang “memacu adrenalin” itu.

“O…silahkan! Tapi jangan diganggu dulu, keadaannya masih sangat lemah!”. Dokter yang baik itu pun meninggalkan kami berdua. Aku dan Pemimpin kembali membisu di lorong rumah sakit yang sepi itu.

Awalnya, aku dan Pemimpin  bingung. Anak itu harus dirawat di salah satu kamar di rumah sakit kecil karena pendarahannya yang banyak dan yang tersisa hanyalah kamar kelas 1 yang bisa dibilang paling mahal diantara kamar-kamar lainnya.

“Gimana nih Bos?” tanya Pemimpin cemas sewaktu kami berada di ruang administrasi.

Aku sibuk berpikir. Gimana juga ya? Aku dan Pemimpin tidak punya cukup uang untuk membayarnya, akan tetapi kalau anak itu dibiarkan di luar, bisa lebih bahaya lagi!

Dan akhirnya aku mengambil keputusan. “Kita ambil saja kamar ini!”

Pemimpin menatapku bingung “Bayarnya gimana?”

“Masalah itu belakangan aja! Kita bisa patungan berdua. Ini resiko dan kita harus memikulnya. Lagi pula, kita tidak bisa membiarkan anak ini tanpa perawatan yang intensif. Kalau lukanya bertambah parah, bagaimana?” jawabku.

Pemimpin pun akhirnya mengangguk pasrah. Tiba-tiba, aku teringat bahwa saat ini, tawuran mungkin saja masih berlangsung.

“Salah satu diantara kita harus kembali ke Pengkolan Haji Somat untuk menghentikan tawuran. Jangan sampai jatuh korban lagi! “ ucapku kepada Pemimpin.

“Biar gw yang kembali ke sana! Gw titip anak ini sama Bos. Gw yang bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini. Gw akan segera kembali!“. Nada penyesalan yang mendalam terkandung dalam ucapan Pemimpin.

Aku tersenyum mendengar ucapannya.

“Masalah ini kita tanggung bersama. Ini semua juga salah gw!”. Kutepuk bahu Pemimpin lembut.

“Terima kasih, Bos Besar…”. Pemimpin pun meninggalkan rumah sakit. Kutatap punggung Pemimpin. Aku mendesah. Apa yang telah terjadi, Ya Allah? Inikah teguranMu untuk kami berdua?! Sungguh berat, Ya Allah…

 

Setelah mengantar kepergian Pemimpin, aku menuju kamar tempat anak itu dirawat. Sungguh berat memutar gagang pintu kamar itu. Ayo, jangan takut! Tanggung jawab atas kesalahanmu!  Akhirnya, aku berhasil membuka pintu dan berjalan perlahan ke arah tempat tidur berselimut putih bersih itu.  Tampak anak itu terbaring tak berdaya. Di sebelah kanan tempat tidurnya digantung kantong darah yang sedang ditransfusikan ke dalam tubuh lemahnya. Kuamati selang infus yang berwarna merah karena berisi darah.

Tes, tes, tes…Darah menetes satu persatu dari kantong darah ke selang dan menuju ke tubuh anak itu! Kasihan anak ini, ia tidak bersalah atas tawuran ini! Ia hanyalah korban…Kualihkan pandanganku ke arah perutnya yang tampak  telah dijahit dengan jahitan yang cukup panjang. Disekeliling perutnya diperban dengan perban putih akan tetapi kini perban itu berwarna merah karena rembesan darah yang keluar dari luka tusukan di perutnya itu! Sedih hatiku melihat keadaannya sekarang! Pasti sakit dan perih sekali rasanya, ditusuk dengan pisau yang tajam dengan tiba-tiba. Membayangkannya saja aku tak kuat, apalagi kalau harus mengalaminya sendiri! Bagaimana jika anak itu adalah aku?? Kutarik nafas panjang, mencoba menghilangkan segala gundahku. Kuambil kursi dan kuletakkan di sebelah tempat tidur. Sebelum aku duduk, tiba-tiba anak itu menggerakkan tangannya dan matanya samar-samar mulai terbuka. Aku terlonjak menjauh dari kursi. Aduh…bagaimana ini?! Aku belum siap berhadapan langsung dengannya. Kalau anak ini bertanya mengapa ia bisa berada di rumah sakit, bagaimana?!  Rasa takut merambat ke seluruh tubuhku.

“Arrgh..!!!” erang anak itu. “S..a..k..i..t..!!!!”

Segera kuhampiri anak itu. Kulihat darah dari perutnya mulai keluar lagi.

“Kupanggil dokter…” ujarku sambil pergi meninggalkannya, akan tetapi tangan anak itu memberi isyarat padaku untuk tetap tinggal di sini.

“Ana di mana?” tanyanya lemah sambil memegang kepalanya.

Ana?? Waduh, kayaknya pernah dengar tuh kata, tapi di mana ya?!  Ana, ana, aku berpikir keras mencari jawabannya. Oh ya…ANA, anak-anak ROHIS seperti Fajar, Edo,Taqim, dan anak-anak lainnya sering menggunakan kata ANA kalau sedang berbincang-bincang di mushalla, dan kalau tidak salah artinya adalah…SAYA??!!

“Hmm…E..n..t..e… ada di rumah sakit.” jawabku terbata-bata setelah berusaha mengingat-ingat jawaban dari ANA adalah ENTE yang artinya KAMU. Waduh, jangan-jangan dia anak ROHIS juga! Semakin menyesal dan sesak hati ini kalau ingat bahwa aku dan Pemimpin lah yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Kalau berurusan sama anak ROHIS, nyeselnya jadi nambah!

“Jam berapa sekarang?” tanya anak itu lagi.

Kulihat jam dinding di hadapanku. “Jam 5 sore.”

Astaghfirullah…” seru anak itu tertahan.

“Kenapa lagi?!” tanyaku cemas.

“Ana belum shalat ashar.” jawabnya.

Ya ampun, sakit-sakit begini anak ini masih saja ingat shalat!!! Sedangkan aku yang sehat justru melalaikanny! Aku jadi malu. Apalagi setelah teringat bahwa sewaktu mendengar adzan ashar-lah, tubuh anak ini tiba-tiba bergerak, tanda bahwa Allah masih sangat menyayangi kami semua.

“Afwan…Ana boleh minta tolong sama Ente?”. Anak itu menatapku dengan senyuman lemah.

“Iii…ya….ya…Apa yang bisa Ana bantu?”. Terbiasa juga akhirnya aku memakai kata Ana dan Ente saat berbicara dengannya.

“Tolong Ana untuk bertayamum! Badan Ana sakit semua… “ pintanya.

Tanpa berfikir panjang lagi, aku pun segera membantunya untuk bertayamum dengan hati-hati. Setelah itu, kuperhatikan anak itu shalat sambil berbaring. Aku tersenyum kecil. Wajahnya begitu khusyuk dan tenang sewaktu shalat. Setelah ia mengucapkan salam mengakhiri shalatnya, aku berniat untuk cepat pergi dari tempat ini.

“Ana pulang dulu ya…” ucapku memohon pamit.

“Sebentar…” ujarnya.

“Ada apa lagi?”

“Kenapa Ana bisa ada di rumah sakit? Ana kenapa?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan itulah yang berusaha untuk kuhindari saat ini, hari ini tepatnya! Harus ada Pemimpin yang menjelaskan semuanya.

Aku tersenyum padanya dan berkata “Maaf, Ana belum bisa menceritakan apa yang telah terjadi sama Ente hari ini! Ceritanya panjang. Sekarang lebih baik Ente istirahat dulu! Ana janji, besok Ana dan seorang teman Ana akan segera kemari dan menceritakan semuanya.”

Anak itu pun mengangguk. “Apa pun yang terjadi, Ana sangat yakin kalau Ente adalah orang yang baik. Syukron, terima kasih…”.

Hati ini tambah sakit mendengar ucapannya barusan. Maaf, aku tidak sebaik itu…!!!

Assalamualaikum…” salamku sambil berjalan meninggalkan anak itu.

Waalaikumsalam…” jawabnya.

Segera kubuka pintu kamar dan berlari ke luar. Aku ingin segera pergi dari tempat ini. SEGERA!! Di tengah lorong rumah sakit, kulihat sepasang suami-istri yang juga tengah berlari menuju kamar yang tadi aku tinggalkan dengan penuh kecemasan. Pasti mereka berdua adalah orang tua dari anak itu. Ayahnya memakai peci putih yang menempel di kepalanya yang bulat dan berjanggut hitam lebat, sedangkan Ibunya memakai jilbab lebar dengan raut wajah penuh ketegangan. Mereka segera masuk ke kamar anak itu dengan langkah tergesa-gesa.

Maafkan aku dan Pemimpin, Bapak dan Ibu yang baik…

 

Aku segera menuju ke Pengkolan Haji Somat untuk melihat keadaan. Saat aku tiba di sana, sudah sepi, tidak ada orang lagi! Yang terlihat hanyalah bekas-bekas tawuran, seperti bambu yang patah, pecahan kaca, dan potongan-potongan kayu. Entah kenapa, aku begitu benci melihat benda-benda itu! Suasana yang sepi menandakan bahwa tawuran telah selesai. Segera aku kembali ke sekolah, mencari Pemimpin!

Setibanya di sekolah, aku tak melihat anak-anak yang terlibat tawuran. Suasana sekolah juga telah sepi karena sudah waktunya pulang. Oya…aku kan belum shalat ashar! Jadi teringat dengan anak tadi yang walaupun sakit masih saja ingat akan shalat. Kulangkahkan kakiku ke arah masjid yang tampak lenggang. Kuambil air wudhu. Seketika rasa sejuk kurasakan ke seluruh tubuh ini. Ketenangan seperti memeluk jiwaku. Setelah itu, langsung kutunaikan shalat ashar.

“Ya Allah…sungguh aku adalah makhlukmu yang hina dan lemah! Banyak sekali dosa yang telah kuperbuat akibat kesombongan dan keangkuhanku. Hari ini, atau mungkin selama ini, dosaku sungguh sangat besar, karena aku memimpin tawuran, perbuatan yang Engkau larang. Maafkan aku, Ya Allah! Dan hari ini, Engkau telah mengingatkanku atas segala kesalahanku selama ini. Berkat kejadian dengan anak itu, mata hatiku terbuka atas kekhilafan yang telah aku perbuat. Dan hari ini juga, aku telah merasakan cinta dan kasihMu padaku. Engkau masih memberikanku kesempatan untuk bertaubat. Semoga kejadian ini memberikan hidayah kepadaku untuk kembali kepadaMu. Engkaulah Yang Maha Pengampun dan Penyayang. Engkaulah Maha Penerima Taubat. Terimalah taubatku ini Ya Allah…!!! Aminn…”.

Air mataku deras jatuh ke pipi. Sungguh, aku benar-benar ingin menjadi lebih baik. Ingin bertaubat! Kuusapkan tanganku ke muka. Semangatku bangkit. Aku pasti bisa untuk menjadi lebih baik karena Allah pasti mengabulkan doaku. Aku beranjak dari tempatku shalat. Saat aku melihat ke pojok masjid, aku melihat Pemimpin! Ia tampaknya sedang menangis tersedu-sedu. Ia juga sedang berdoa sepertiku juga! Aku tersenyum melihatnya. Aku ingin menghampirinya, tetapi kutahan langkahku…Biarlah saat ini ia hanya mengadu kepada Allah, mencurahkan segenap hati dan segala penyesalan. Semoga dengan kejadian ini, membawa hidayah bagi kami berdua untuk menjadi lebih baik. Aku kembali ke tempatku. Kuambil Al-Qur’an dan kubaca. Sungguh hati ini terasa semakin tenang. Ayat-ayat  Al-Qur’an yang kulantunkan membuat air mataku kembali menetes. Terasa getaran-getaran hebat dalam hatiku. Apakah ini hidayahMu Ya Allah?

Setelah selesai membaca Al-Qur’an, aku menuju tempat sepatu. Tampak di sana Pemimpin menungguku. Ia duduk terdiam sambil menatap kedatanganku. Aku tersenyum melihatnya.

Bos, anak-anak tadi udah gw bubarin!”. Pemimpin memulai pembicaraan.

Sunyi meliputi kami berdua.

“Gw bertekad akan bertanggung jawab atas semuanya! Besok gw akan menjelaskan semua yang terjadi. SEMUANYA! Gw siap menanggung resikonya!”. Terlihat kesungguhan dalam ucapan Pemimpin. Kutatap matanya yang merah karena menangis. Pasti Pemimpin benar-benar menyesal!

“Gw sangat bangga mempunyai teman seperti lo! Tetapi sebagai seorang teman yang baik, gw nggak akan ngebiarin lo nyelesaiin masalah ini sendirian! Allah pasti akan memberikan kemudahan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh dan mau bertaubat. Lo percaya kan atas kekuatan Allah?” tanyaku kepada Pemimpin.

Pemimpin mengangguk mantap. Air matanya kembali menetes.

“Tahukah Bos¸karena kejadian ini, gw jadi sadar atas kekuatan Allah yang dulu gw ragukan…” jawab Pemimpin.

“Sama seperti gw! Kita harus bersyukur kepada Allah bahwa kita masih disayangiNya.” kataku.

Kami berdua pun akhirnya berpelukan. Pelukan yang sangat erat. Pelukan sahabat sejati.

(bersambung…)

 

Share artikel ini yuk 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *