Memoar Pemimpin Dan Bos Besar (Part 4-END)

Memoar Pemimpin Dan Bos Besar (Part 4-END)

Penulis: Floweria (angkatan 2007)

 

memoar

 

BAB IV

Putihkan Kertas Yang Telah Ternoda

 

Sekolah sedang ramai karena sudah jam pulang sekolah. Aku dan Pemimpin langsung menuju ke warung pojok, tempat anak-anak AWP biasa nongkrong. Saat aku dan Pemimpin datang, kami langsung disambut dengan tepukan tangan.

Bos Besar dan Pemimpin datang!!!”

“Kemana aja hari ini Bos?! Bolos ya?? Kok nggak ngajak-ngajak sih!!!”

“Ayo, ayo, kita rayakan bersama-sama kemenangan kita kemarin!! Mampus tuh anak anak Jati Warna!!”

“Iya, iya, hari ini kita semua ditraktir Deden makan sepuasnya!!”

Aku dan Pemimpin menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka semua. Tak terbayangkan kalau kemarin mereka masih ada diantara mereka menyusun rencana jahat menyerang sekolah lain!!!

“Ehmm…” Aku berdehem tetapi tidak didengar oleh mereka karena suara mereka begitu keras. Mereka begitu bergembira dan berteriak-berteriak tak karuan, merayakan kemenangan mereka! KEMENANGAN SEMU!!! Pemimpin tampaknya sudah tidak sabar lagi dan berteriak keras “DIAM semuanya!!!”

Seketika suasana jadi sepi. Anak-anak kaget mendengar teriakan Pemimpin yang menggelegar. “Ada yang ingin kami berdua katakan kepada kalian semua!” lanjut Pemimpin. Anak-anak menatap kami berdua dengan serius, menunggu perkataan selanjutnya.

“Begini…”. Aku mulai bicara. “Gw dan Pemimpin memutuskan untuk keluar dari gank ini! Keluar dari AWP….”. Seketika, anak-anak langsung riuh.

“Maksud lo berdua apa?” tanya Adit, salah satu diantara anak-anak dengan emosi.

“Ya, seperti yang tadi gw bilang, kami berdua keluar dari AWP! Dan kami juga menyarankan kepada kalian semua untuk segera menghentikan kebiasaan tawuran dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang mengganggu orang lain. “ jawabku singkat dan tegas.

“Lo semua sekarang mendingan cepetan berubah! Gw dan Bos sekarang sudah insyaf akibat tawuran kemarin. Lo semua tahu, kemarin gw salah tusuk orang!! Dan anak itu sekarang dirawat di rumah sakit. Gw nggak mau apa yang  telah gw alamin kemarin terjadi sama lo-lo semua! Cukup gw yang ngalamin! Oleh karena itu, mendingan kita jadi anak-anak baik-baik aja, nggak kayak gini…” Pemimpin angkat bicara.

“Eh, lo berdua!! Jangan pada sok suci ya!!! Berani-beraninya lo berdua nyuruh kami semua pada taubat!! Emang kalian siapanya kami, hahh??!!” bentak Emil yang langsung disetujui dengan anak-anak lain.

“Lagian, salah lo sendiri sampe salah tusuk orang! Bukan urusan kita, tahuu…!!”. Celetuk Yoga ketus.

“Gw tau, lo berdua pengecut!! Lari dari kenyataan!! Kita semua selama ini salah besar udah ngganggap lo berdua Bos Besar dan Pemimpin gank kita!! “ bentak Jaka garang.

“Huuu, huu, pengecut, pengecut, pengkhianat!!!” elu anak-anak yang lain sambil menimpuki kami berdua dengan gelas-gelas aqua dan sampah plastik lainnya.

Aku dan Pemimpin menghela nafas. Ini semua seperti apa yang telah kami duga sebelumnya. Mereka pasti akan menolak pernyataan kami berdua. Tetapi kami tetap yakin dengan segala ucapan dan keputusan kami.

“Sudah, sudah…terserah kalian mau menganggap kami berdua apa! Tapi pikirkanlah apa yang telah kami katakan barusan. Ini semua demi kalian juga!” ucapku sungguh-sungguh. Aku dan Pemimpin akhirnya berjalan meninggalkan mereka diiringi dengan sorakan.

 

 

 

Semenjak kejadian itu, hubunganku, Pemimpin, dan Dinda semakin dekat. Pemimpin telah menceritakan semua yang terjadi kepada kedua orangtuanya. Seperti yang diduga, awalnya mereka marah, akan tetapi akhirnya memaafkan juga, sama seperti yang aku alami dengan Kakek dan Nenekku. Keluarga kami bertiga, aku, Pemimpin, dan Dinda jadi bersahabat, begitu juga dengan kami bertiga sendiri. Aku dan Pemimpin sering main ke rumah Dinda. Kami bertiga semakin memperdalam ilmu agama. Abi Dinda adalah pemilik sebuah pesantren ternama di daerah Kudus, Jawa Timur. Beliau sering mengajarkan kami tentang ilmu-ilmu fiqih, muamalah, dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Bagiku, yang cucu seorang ustadz, semua yang diajarkan Abi tidak asing lagi. Kakek juga sering mengajarkanku di rumah, akan tetapi aku tidak terlalu memperhatikan, biasalah, aku itu anaknya badung, jadi ogah-ogahan kalau dengar Kakek mulai ceramah! Akan tetapi, untuk kali ini, aku benar-benar niat untuk mempelajari semua itu! Aku ingin bertaubat sepenuhnya! Setelah dipelajari semakin dalam, ternyata ilmu-ilmu agama Islam tidaklah membosankan seperti apa yang aku kira selama ini. Hati ini semakin tertunduk karena begitu banyaknya hal-hal yang belum kita ketahui dan tugas kitalah untuk mengetahui dan mempelajari semua itu sebagai tanda ketakwaan kita terhadap kekuasaan Allah swt. Lain lagi dengan Pemimpin yang baru kali ini mengenal Islam lebih dekat. Minatnya sangat luar biasa untuk belajar, belajar, dan belajar!!! Orang seperti Pemimpin kalau sudah niat dari hati, ke depannya dia akan total, tidak main-main!

Aku dan Pemimpin sering mabit (Malam Bina Takwa) di rumah Dinda yang besar di daeah Lebak Bulus. Kami membicarakan banyak hal dan saling bertukar pikiran, tentang Islam khususnya. Jujur, aku dan Pemimpin sekarang telah berubah dan kami sangat merasakan perubahan itu yang menurut kami perubahan itu membawa kami menjadi jauh lebih baik dan lebih mengenal tujuan dari hidup ini sebenarnya, tujuan hidup di dunia untuk menggapai akhirat! Di sekolah, kami berdua sekarang mulai aktif di ROHIS. Awalnya, canggung juga berada diantara anak-anak seperti Fajar, Edo, Taqim, dan Abdul yang terkenal sebagai pentolan-pentolannya ROHIS SMP N 5. Kalau berada di antara mereka, sepertinya aku dan Pemimpin paling kecil dan rendah ilmunya, akan tetapi perasaan itu lama-kelamaan sirna! Mereka menerima kami berdua dengan tangan terbuka sehingga kami merasa nyaman berada diantara mereka.

“Tahukah Antum berdua, Ana rela ditusuk berkali-kali kalau akhirnya Ana mendapatkan sahabat-sahabat yang sefikrah seperti Antum berdua!” ucap Dinda suatu hari kepadaku dan Pemimpin. Kami bertiga berpelukan erat.

“Sungguh Allah Maha Kuasa! Semoga persahabatan kita tetap terjaga sampai nanti…”, ucapku.

 

Selang 1 bulan setelah kejadian penusukan, anak-anak AWP mendapat musibah. Mereka tiba-tiba diserang balik oleh anak-anak SMP Jati Warna yang membalas tawuran kemarin. Serangan SMP Jati Warna nggak tanggung-tanggung!! Mereka menyerang SMP N 5 dari Pengkolan Haji Somat, tempat dulunya SMP N 5 menyerang mereka. Otomatis SMP N 5 kalah telak karena serangan itu tiba-tiba dan tak terduga!! Dan tragisnya, tawuran kali ini melibatkan pihak yang berwajib alias POLISI. Saat terjadi tawuran, POLISI sedang mengadakan razia di jalan-jalan, sehingga anak-anak yang terlibat tawuran langsung ditangkap dan di penjara. Anak-anak AWP yang menjadi korban juga kena getahnya, mereka juga ditangkap! Aku dan Pemimpin merasa iba dan kasihan mendengar peristiwa itu. Kami jadi merasa bersalah.

“Antum berdua nggak salah kok, Antum kan sudah mengingatkan mereka…” ucap Dinda sewaktu kami berdua menceritakan masalah ini kepadanya.

“Lebih baik, sekarang Antum mengunjungi mereka di penjara dan berusaha menyadarkan mereka lagi! Insya Allah dengan kejadian ini, hati mereka akan terbuka…” lanjut Dinda.  Apa yang Dinda katakan memang benar, inilah saatnya bagi aku dan Pemimpin untuk mendekati mereka kembali. Dan keesokan harinya, aku dan Pemimpin mengunjungi mereka di penjara sambil membawa makanan-makanan kecil.

“Kami tidak bersalah!” Cerita mereka sedih kepadaku dan Pemimpin di balik jeruji.

“Kami hanya korban! Anak-anak Jati Warna yang seharusnya dipenjara, bukan kami!” tutur anak yang lainnya. Miris mendengar pengaduan-pengaduan mereka.

“Sudahlah…ini semua salah kita! Kita yang memulai, maka kita juga yang menerima akibatnya.” ucapku lembut.

“Ya…udah gw bilang, mendingan lo-lo semua cepetan berubah!! Ini semua pelajaran buat kita untuk jadi anak yang lebih baik dan nggak buat malu orang tua kita. Kasihan orang tua kita yang menanggung malu karena anaknya dipenjara gara-gara tawuran!“ timpal Pemimpin pedas.

Mereka semua terdiam. “Kita nyesel banget! Tapi masih ada waktu buat kita semua pada taubat?!” tanya mereka lirih.

Aku dan Pemimpin tersenyum. “Nggak ada kata terlambat untuk bertaubat. Ayo, kita sama-sama menjadi seseorang yang lebih baik!” kataku bersemangat.

Dan semenjak itu, jarang terdengar lagi peristiwa tawuran antar-sekolah, khususnya oleh anak-anak AWP. Walaupun masih ada beberapa anak yang suka berbuat “usil” di sekolah, akan tetapi masih dalam batas yang wajar. Itu semua berkat kebersihan hati dan kemauan dari dalam diri untuk mau menjadi lebih baik, karena tidak pernah ada kata terlambat untuk semua itu, kecuali saat ajal menjemput……

 

 

Share artikel ini yuk 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *