Insya Allah dan Optimisme

insya Allah

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (٢٣


إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (٢٤

23) Dan jangan sekali-sekali engkau mengatakan terhadap sesuatu , ‘Aku pasti akan melakukan itu besok pagi.‘

24) Kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah’. Dan ingatlah Rabb-mu saat engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabb-ku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.’

(QS Al-Kahfi: 23-24)

***

Insya Allah. Tentunya teman-teman semua sering mengucapkan kata yang satu ini.

“Besok tugasnya juga selesai kok, insya Allah.”

“Iya, besok gw dateng, insya Allah.”

Tahu kah teman-teman kalau insya Allah ini punya makna yang begitu dahsyat?

Kali ini admin akan mencoba untuk mengambil intisari dari video khutbah Nouman Ali Khan mengenai pentingnya mengucapkan insya Allah.

Dalam QS Al-Kahfi ayat 23, Allah berfirman:

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا

Wa laa taquulanna lisyai’in innii faa’ilun dzaalika ghodaa.

Dan jangan sekali-sekali engkau mengatakan terhadap sesuatu , ‘Aku pasti akan melakukan itu besok pagi.‘

Dalam ayat ini, Allah tidak menggunakan kata Laa taqul yang berarti Jangan katakan, tetapi Allah menggunakan kata Laa taquulanna yang berarti Jangan PERNAH katakan. Allah menegaskan bahwa tidak boleh berkata tentang apapun yang menyatakan bahwa kita pasti akan dapat menyelesaikan suatu tugas esok hari.

Lalu bagaimana jika mendapat tugas dari guru atau atasan yang harus diselesaikan esok hari? Bukankah itu berarti tidak boleh dijawab dengan pernyataan, “Baik, Pak/Bu. Saya akan menyelesaikannya besok“ ?

Tenang, jawabannya ada di potongan ayat berikutnya. Di awal QS Al-Kahfi ayat 24, Allah berfirman:

إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Illaa an yasyaa-a’ alloh.

Kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah’..

Allah membolehkan kita untuk melakukan sesuatu di masa depan dengan ucapan insya Allah, jika Allah menghendaki. Inilah kenapa dalam budaya muslim, kata insya Allah digunakan untuk hal-hal yang berkenaan dengan masa depan.

Jika berkata, “Besok aku datang ke rumahmu pukul 3, insya Allah.“ Itu artinya, jika Allah tidak mengizinkan untuk datang ke rumahnya, itu adalah hal di luar kuasa kita. Niat dan usaha untuk menepati janji itu memang ada, dan harus ada. Hanya saja ternyata rencana kita tidak sesuai dengan rencana Allah.

Dari sini berarti kita telah meyakini bahwa masa depan bukan berada di tangan kita, namun berada di tangan Allah. Karena itulah kata insya Allah diucapkan.

Tetapi, terkadang pelajaran Allah yang indah dalam Al-Qur’an ini tidak dipahami dengan baik oleh kita.

“Aku akan datang ke acaramu besok, insya Allah.”

Makna insya Allah pada kalimat yang diucapkan bisa berubah menjadi:

“Aku tidak yakin bisa datang ke rumahmu besok. Karena itu aku mengucapkan insya Allah. Kalau aku malas, bangun kesiangan, atau tidak mood, bisa jadi aku tidak datang ke rumahmu besok.“

Insya Allah menjadi jalan untuk menghindari komitmen. Padahal, bukan seperti itu.

Coba kita lihat lagi potongan QS Al-Kahfi ayat 23, “faa’ilun dzaalika ghodaa“, “Aku pasti akan melakukan itu besok pagi.“ Kalimat ini adalah kalimat janji, kalimat komitmen. Hal yang kita ucapkan wajib hukumnya untuk dilaksanakan.

Jika kita merasa tidak dapat melakukan sesuatu, katakan saja bahwa kita tidak bisa. Tapi, jika sudah berjanji, kita harus menepatinya. Lalu tambahkan, satu-satunya yang menyebabkan kita tidak bisa menepatinya adalah jika Allah menetapkan sesuatu di luar kuasa kita. Itulah “Illaa an yasyaa-a’ alloh(QS Al-Kahfi: 24).

Illaa an yasyaa-a’ allohbukan berarti kita tidak akan datang jika malas atau tidak mood. Tidak boleh menggunakan insya Allah dengan maksud seperti itu. Ini adalah hal yang keliru bagi frasa yang keras ini. Kita mengakui bahwa tidak semuanya berada dalam kendali kita. Allah telah memberi kemampuan untuk dapat memenuhi komitmen yang telah diucapkan. Namun meski kita mampu, Allah adalah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah berkuasa untuk menghentikan semua rencana kita. Inilah esensi dari “ Illaa an yasyaa-a’ alloh (QS Al-Kahfi: 24).

Lalu Allah menambahkan dalam lanjutan QS Al-Kahfi ayat 24:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ

Wadzkur robbaka idzaa nasiit.

Dan ingatlah Rabb-mu saat engkau lupa .

Allah menggunakan kata “saat“, bukan “jika“. Ini berarti Allah menjamin bahwa kita akan lupa. Akan tiba saatnya ketika berjanji, kita lupa mengucapkan insya Allah. Allah juga menggunakan kata “Rabb“ untuk mengingatkan bahwa Allah adalah Rabb kita. Dia Yang Menguasai masa depan kita.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengajarkan keseimbangan. Di satu sisi kita membuat sebuah janji. Di sisi lain kita juga percaya mutlak dengan kekuasaan Allah.

Lalu pelajaran berikutnya ada di lanjutan QS Al-Kahfi ayat 24 yang berbunyi:

وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا 

“Wa qul ‘asaa an yahdiyani robbii li ‘aqroba min haadzaa rosyadaa”

Dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabb-ku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.’

Kalimat ini merupakan sebuah doa. Bahkan lebih dari itu, mengandung sebuah harapan dan optimisme. Allah mengajarkan bahwa muslim harus punya harapan di masa depan. Iman yang membuat seorang muslim optimis dengan masa depannya.

Allah ingin menunjukkan bahwa Allah tak akan melupakan kita. Kita mengingat Allah sehubungan dengan masa depan kita (dengan mengucapkan insya Allah), maka Allah pun akan mengingat kita sehubungan dengan masa depan.

Masya Allah, ternyata ada begitu banyak makna yang terkandung dalam perintah mengucapkan insya Allah ya. Semoga kita bisa lebih berkomitmen dengan apa yang sudah diucapkan dan ingat untuk mengucapkan insya Allah. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk-Nya untuk kita. Aamiin..

 

Sumber video dan translasi:

Share artikel ini yuk 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *